Rabu, 15 Mei 2013

jendela manusia dengan kaca

Segala puji bagi Allah SWT, Maha sempurna dengan segala ciptaaNYA termasuk di dalamnya manusia. jasad, ruh dan akal di sempurnakan sebagai eksistensi dari manusia. semuanya memiliki fungsi dan berhak untuk di berikan 'makanan'. Sebagaimana makanan jasad adalah zat gizi yang di konsumsi sehingga dapat di metabolik oleh tubuh untuk menjadi energi. Begitupun ruh dan akal, keduanya berhak untuk diberi makan agar terpelihara dan sehat. Makanan akal adalah ilmu sedangkan ruh adalah beribadah. Dua hal ini (akal dan ruh) perlu proporsional dalam mengefektifkan fungsinya, bukan berarti membagi tugas sama rata itu dikatakan adil, namun adil di sebutkan ketika kita menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya.

menarik memang berbicara mengenai manusia, kita seakan membicarakan orang lain di luar sana. padahal yang kita bahas adalah diri kita sendiri namun kita berkaca dari orang lain.
Bukan sebuah produk yang dikatakan gagal ketika Allah menciptakan sebuah pisang yang busuk atau tumbuh tidak sempurna dalam barisan (tandan pisang), tapi itu adalah wujud kesempurnaan Allah SWT yang jika DIA menghendaki demikian maka akan terjadi demikian dan hal tersebut menjadi pelajaran bagi kita untuk mengetahui cara menilai sebuah pisang yang baik.
Begitupun manusia, Allah SWT menciptakan manusia yang kurang sempurna (dalam penilaian umumnya manusia) karena wujud ke-Maha SempurnaaNYA. namun hal ini bukan sebuah kelemahan, tapi justru sebuah kekuatan atau bisa juga disebut dengan motivator terselubung, karena tidak sedikit orang yang disebut "cacat" oleh dunia tapi ia begitu dahsyat kekuatnnya.

Jiwa yang ada dalam diri menuntut kebebasan, tak ingin terkekang atau terbelenggu. Akhirnya dibuatlah kata HAK ASASI MANUSIA (HAM), setiap individu memiliki hak dan kewajiban, hal  ini merupakan kesepakatan yang turun menurun tertanam sampai dengan generasi yang paling akhir masa kini. lucunya sebuah kata HAM yang sering disebut-sebutkan dalam sebuah "pembelaan nafsu" ketika syahwat menjadi raja hanya menjadi senjata tua berkaliber besar yang tak berpeluruh namun ampuh untuk menggetarkan sebuah keyakinan yang sudah pasti kebenarannya.
"Terjadi pembatasan HAM ketika sebuah kodrat sebagai manusia di langgar, seperti halnya Lesbian, Gay, Bisex, Transgender (LGBT)"  seruan pengikut hawa nafsu. Namun ia melupakan makna HAM itu sendiri.
manusia pada dasarnya di ciptakan dari laki-laki yang ketika ia yang cakep di sebut ganteng dan perempun yang ketika ia menarik dikatakan cantik., lantas sebuatan apa yang cocok untuk seorang waria??? bahkan binatang saja menyalurkan hasratnya pada lawan jenis.
jika masih ingat pelajaran biologi mengenai perkembang biakkan makhluk hidup, Hewan  hemaprodid saja memerlukan lawan pasangan (berbeda) dari nya. Lantas bagaimana kita harus menilai manusia yang tingkat kecerdasan jauh melebihi hewan berbuat lebih rendah dari hewan???

Kebanyakan dari perkembangan kasus LGBT ini dikarenakan faktor psikologi. ini adalah sebuah kelainan, sebuah penyakit yang harus disembuhkan. Seorang perempuan yang trauma terhadap laki-laki, bukan lantas ia menjadi antipati kepada semua laki-laki lalu ia memilih perempuan lain menjadi pasangannya. jangan biarkan penyakit itu dinikmati. Berobatlah ! begitupun sebaliknya. Sadarkan diri kita pada tujuan awal, hakikatnya manusia adalah seorang hamba Tuhan. kita tidak akan pernah menemukan kebahagian yang kekal jika sebuah masalah hanya di lampiaskan ke masalah berikutnya.

Pemrintah dalam hal ini anggota dewan yang kekuatannya hanya bisa membuat undang-undang, dirancang kemudian disahkan, hanya sebatas sebai pemeran pembantu dalam skenario kehidupn kita. Bahkan dikatakan oleh salah satu anggota legislatif, bahwa sebuah aturan yang akan ditetapkan menjadi undang-undang harus memiliki "Dampak sosial negatif". Aneh, jika dilihat 100% dari mereka memiliki agama. Tapi mengapa ketika membuat aturan seakan-akan mereka tidak mengenal aturan Tuhan.

Setiap manusia hidup dengan manusia lainnya, berkaca dengan HAM dengan melihat diri sendiri sebagai objeknya dinilai tidak adil. ataukah makna dari kata adil sekarang ini sudah berganti?
Dalam pancasila (sila ke 5), "Keadilan manusia yang beradab". jelas dalam kandungan sila tersebut, keadilan manusia akan dapat dicapai dengan adab. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Bagaimana reaksi anda melihat sepatu (setelah dipakai) lalu diletakkan di meja makan bersamaan dengan hidangan makanan yang akan disantap? akan ada reaksi (aksi untuk perbaikan) bukan? demikian juga dengan salah satu kasus yakni perkembangan LGBT. Apakah hal tersebut disebut adil?
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar