Penginjilan,
Meninjau kembali Pengertian Iman
Apa pengertian Iman? Dengan mudah
kita akan menjawabnya dengan kata “percaya/ yakin”. Menurut KBBI (Kamus Besar
Bahasa Indonesia) yang dipakai secara umum dan menjadi bahan rujukan kata
‘Iman’ Berarti Kepercayaan (yang berkaitan dengan agama), Keyakninan dan
kepercayaan kepada Allah, Nabi, kitab, dan sebagainya. Pengertian kedua adalah
ketetapan hati, keteguhan bati, dan keseimbangan batin. Jika ditambahkan
imbuhan, ‘ber-iman’ adalah mempunyai iman (Ketetapan hati) ; mempunyai Keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan Ynag
Maha Esa. ‘berimankan’ artinya percaya kepada ; ‘meng-iman-i’ adalah meyakini
dan mempercayai, sedangkan ‘ke-iman-an’
diartikan sebagai keyakinan, ketetapan hati, keteguhan hati.[1]
Dalam Al-quran kata iman
merupakan kata dasar atau pokok dan buka sebuah kata turunan – yang harus diartikan
secara spesifik dari sebuah kata dasar – namun ketika menerangkan ‘iman’
Al-qur’an menerangkan ciri-ciri iman,
yakni dalam Qs. Al-Hujurat ayat 14-15 : “Orang-orang Arab Badui berkata
:”Kami telah beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman belum
masuk kedalam hatimu ; dan jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya, Dia tidak
akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu ; sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah
orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak
ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.
Mereka itulah orang-orang yang benar ”. Selain itu juga dijelaskan dalam
hadist Arba’in ke-2 ‘Pemahaman Islam, Iman dan Ihsan’ yaitu : “..... Iman
adalah engkau beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya,
hari akhir dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk, Ia
(Jibril) berkata, Engkau benar.......”[2]
Dalam pengertian Kristiani, iman
adalah ‘percaya’ dalam surat Markus 16 : 16 “Siapa yang percaya dan dibaptis
akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” Iman
adalah kepercayaan dan bersifat sakral, iman seperti ini ditafsirkan perjalanan
“iman Abram dipanggil Allah” (Kejadian 12 :1-9) yang dibagi menjadi tiga hal
yaitu ayat 1-3 ditafsirkan sebagai “panggilan iman”, ayat 4-6 ditafsirkan
sebagai “jawaban iman”, dan ayat 7-9 adalah “perjalanan iman”. Berkaitan aturan
iman dalam Kristen juga terdapat dalam bibel Surat Yokabus 2 :17.
Dari ketiga pengertian diatas,
sebagai muslim mengerti dan faham apa sebenarnya hakikat kata ‘iman’ adalah
penting. Pengertian Iman seorang muslim
tidak hanya sekedar percaya dan yakin bahwa Allah SWT menciptakan langit, bumi,
berserta isi didalamnya termasuk adalah manusia. Tidak hanya percaya dan yakin serta
membenarkan. Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, mengatakan “Perkataan
sebagian orang bahwa iman secara bahasa artinya hanya pembenaran saja (attashdiiq),
maka pengertian itu perlu ditinjau ulang, karena biasanya orang (Arab)
mengatakan, ‘Aamantu bikadza wa shaddaqtu fulanan (saya beriaman dengan
ini (sesuatu) dan saya membenarkan seseorang),’ dan tidak dikatakan ‘Aamantu
fuulanan (saya mengimani seseorang)’, tetapi yang biasa mereka katakan ‘Shaddaqahu
(ia mempercayainya).’ Kata shaddaqu termasuk dalam fi’il muttadi
(memerlukan objek), sedangkan kata aamana adalah fi’il laazim.”[3]
Iman merupakan sebuah ikrar dan
pengakuan yang mengharuskan adanya sikap menerima atau tunduk yang sesuai
dengan syari’at. Hal ini untuk menghindari dari sikap hanya mengikrarkan saja
namun hatinya menolak hal itu, seperti yang dilakukan oleh Abu Thalib (paman
Nabi Muhammad saw) – ia berikrar bahwa Nabi Muhammad adalah benar namun tidak
menerima risalah yang diba olehnya- jadi iman merupakan sikap menerima dan
tunduk. [4]
Mengapa
masalah ini (pengertian iman), perlu dikaji kembali khususnya dalam materi
pendidikan agama Islam dari sekolah dasar hingga ingkat tinggi?. Saya
terinspirasi ketika dalam diskusi kecil tentang Kristolgi menyinggung arti kata
iman. Diwaktu yang sama saya sedang membuat makalah dengan kasus
“Penginjilan”. Menarik, karena saya melihat adanya benang merah
antara pengertian kata “IMAN” yang ditanamkan dalam pendidikan dengan peluang
misi penginjilan.
Penginjilan adalah membagikan atau memproklamasikan kabar baik.
Kabar baik yang dimaksud adalah
memberitakan, menyebarkan injil bahwa Yesus Kristus telah mati bagi dosa-dosa
kita (manusia) dan dibangkitkan dari kematian sesuai Al-kitab, dan sebagai
Tuhan yang memerintah, Dia sekarang menawarkan pengampunan dosa dan anugrah
yang membebaskan dalam Roh Kudus bagi semua orang yang bertobat dan percaya.[5] Target
penginjil adalah orang yang masih percaya adanya Tuhan sebagai pencipta manusia dan alam semesta
yang dikenal dengan sebutan orang yang “theis”.
Dalam bukunya Iswara menjelaskan lebih rinci sasaran proses penginjilan,
“Kita sesungguhnya sedang diperintahkan untuk menginjili orang-orang teis,
pertama-tama adalah orang-orang yang
mengaku teis namun teisme mereka keliru, dan yang kedua adalah orang-orang yang
mengaku teis secara teori tetapi ateis secara peraktek”[6]
Penanaman aqidah yang
hanya memperkenalkan Tuhan secara umum bisa dikatakan hanya akan membentengi
manusia dari sifat atheis. Hal ini masih jauh dari tujuan menjadi seorang
muslim. Pernyataan menarik yang pernah ada, jika hanya percaya bahwa Allah
adalah Sang Pencipta, iblis dan syaitan
pun mempercayainya. Sumandiyo Hadi dalam bukunya menuliskan “Beberapa
kepercayaan misalnya tentang adanya malaikat, kiamat, surga, neraka, dsb, sudah
lama menjadi cerita dilingkungan masyarakat. Orang tua selalu mengajarkan
kepada anak-anaknya berbuat baik agar nantinya masuk surga, dan jika berdosa
akan masuk neraka. Kemudian hari kiamat yang akan terjadi, serta masih banyak
cerita lain yang sudah menjadi cerita tradisional adat budaya setempat. Oleh
karena itu tentu saja iman kepercayaan setempat seperti disebutkn, banyak
mempengaruhi atau menguatkan pengakuan iman yang tidak jauh berbeda dengan
ajaran iman Kristiani. Bagi orang tua –yang berhasil dimurtadkan- menerima
ajaran ‘iman’ Katolik, cepat sekali percaya dan menerima dogma itu karena sudah
terbiasa dalam budayanya.”
Sehubungan dengan itu, diperlukan perbaikan
beberapa hal dalam kurikulum pendidikan lebih utama adalah mata pelajaran agama
Islam, dimana pendidikan formal cukup memiliki peranan penting dalam pertumbuh
kembangan generasi bangsa yang berkualitas dalam segala bidang tanpa harus
terkikis moralnya oleh derasnya arus dari luar yang membuat manusianya menjadi skeptik.
Hingga diharapkan kedepannya pertumbuhan sumber daya manusia Indonesia dapat
mencetak seorang dokter yang bermoral karena imannya, seorang sarjana dan
ahli-ahli yang berkarakter karena imannya. Sehingga Indonesia akan kuat dengan
nilai-nilai Islamnya (bukan menjadikan
Indonesia sebagai negara Islam, namun bernilaikan Islam dikarenakan
muslim-muslim didalamnya mencerminkan seorang muslim yang sebenarnya).
Sebagai penutup,
mengapa Islam? Karena Islam adalah agama yang memiliki konsep sebagai
peradaban. Islam bukan agama yang lahir dari proses kebudayaan, dan merupakan
satu-satunya agama wahyu – lebih jelasnya, baca buku H. Hamid Fahmy Zarkasyi,
M.Phil, Ph.D berjudul “Worldview Islam Asas Peradaban” Jakarta : INSIST, 2011-
dan agama yang mengajarkan segala urusan manusia baik hubungannya dengan
Tuhannya, dirinya dan manusia lainnya.
[1] Kamus
Besar Bahasa Indonesia Edisi ke IV
[2] Imam
Nawawi. TERJEMAHAN HADIST ARBA’IN. Hal.
11
[3] Syaikh
Muhammad in Shalih al-‘Utsaimin. Syarah Hadist Arba’in. (Bogor : Pustaka Ibnu
Katsir, 2008) hal. 57
[4] Ibid.
[5] Pernyataan ini
merupakan hasil Kongres tentang penginjilan dunia (world evangelization) pada
tahun 1974 di Lausanne. (Dikutip dari buku Iswara Rintis Purwantara,
PRAPENGINJILAN, MENYINGKIRKAN KENDLA-KENDALA INTELEKTUAL DALAM PENGINJILAN.
(Yogyakarta : ANDI, 2012)
[6] Opcit.
Iswara.... Hal. 59
Tidak ada komentar:
Posting Komentar