Selasa, 22 Oktober 2013

Penginjilan? Pengertian Iman..

Penginjilan, Meninjau kembali Pengertian Iman
Apa pengertian Iman? Dengan mudah kita akan menjawabnya dengan kata “percaya/ yakin”. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang dipakai secara umum dan menjadi bahan rujukan kata ‘Iman’ Berarti Kepercayaan (yang berkaitan dengan agama), Keyakninan dan kepercayaan kepada Allah, Nabi, kitab, dan sebagainya. Pengertian kedua adalah ketetapan hati, keteguhan bati, dan keseimbangan batin. Jika ditambahkan imbuhan, ‘ber-iman’ adalah mempunyai iman (Ketetapan hati) ; mempunyai  Keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan Ynag Maha Esa. ‘berimankan’ artinya percaya kepada ; ‘meng-iman-i’ adalah meyakini dan mempercayai, sedangkan  ‘ke-iman-an’ diartikan sebagai keyakinan, ketetapan hati, keteguhan hati.[1] 
Dalam Al-quran kata iman merupakan kata dasar atau pokok dan buka sebuah kata turunan – yang harus diartikan secara spesifik dari sebuah kata dasar – namun ketika menerangkan ‘iman’ Al-qur’an  menerangkan ciri-ciri iman, yakni dalam Qs. Al-Hujurat ayat 14-15 : “Orang-orang Arab Badui berkata :”Kami telah beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman belum masuk kedalam hatimu ; dan jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu ; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar ”. Selain itu juga dijelaskan dalam hadist Arba’in ke-2 ‘Pemahaman Islam, Iman dan Ihsan’ yaitu : “..... Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, hari akhir dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk, Ia (Jibril) berkata, Engkau benar.......”[2]
Dalam pengertian Kristiani, iman adalah ‘percaya’ dalam surat Markus 16 : 16 “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” Iman adalah kepercayaan dan bersifat sakral, iman seperti ini ditafsirkan perjalanan “iman Abram dipanggil Allah” (Kejadian 12 :1-9) yang dibagi menjadi tiga hal yaitu ayat 1-3 ditafsirkan sebagai “panggilan iman”, ayat 4-6 ditafsirkan sebagai “jawaban iman”, dan ayat 7-9 adalah “perjalanan iman”. Berkaitan aturan iman dalam Kristen juga terdapat dalam bibel Surat Yokabus 2 :17.
Dari ketiga pengertian diatas, sebagai muslim mengerti dan faham apa sebenarnya hakikat kata ‘iman’ adalah penting.  Pengertian Iman seorang muslim tidak hanya sekedar percaya dan yakin bahwa Allah SWT menciptakan langit, bumi, berserta isi didalamnya termasuk adalah manusia. Tidak hanya percaya dan yakin serta membenarkan. Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, mengatakan “Perkataan sebagian orang bahwa iman secara bahasa artinya hanya pembenaran saja (attashdiiq), maka pengertian itu perlu ditinjau ulang, karena biasanya orang (Arab) mengatakan, ‘Aamantu bikadza wa shaddaqtu fulanan (saya beriaman dengan ini (sesuatu) dan saya membenarkan seseorang),’ dan tidak dikatakan ‘Aamantu fuulanan (saya mengimani seseorang)’, tetapi yang biasa mereka katakan ‘Shaddaqahu (ia mempercayainya).’ Kata shaddaqu termasuk dalam fi’il muttadi (memerlukan objek), sedangkan kata aamana adalah fi’il laazim.”[3]
Iman merupakan sebuah ikrar dan pengakuan yang mengharuskan adanya sikap menerima atau tunduk yang sesuai dengan syari’at. Hal ini untuk menghindari dari sikap hanya mengikrarkan saja namun hatinya menolak hal itu, seperti yang dilakukan oleh Abu Thalib (paman Nabi Muhammad saw) – ia berikrar bahwa Nabi Muhammad adalah benar namun tidak menerima risalah yang diba olehnya- jadi iman merupakan sikap menerima dan tunduk. [4]
  Mengapa masalah ini (pengertian iman), perlu dikaji kembali khususnya dalam materi pendidikan agama Islam dari sekolah dasar hingga ingkat tinggi?. Saya terinspirasi ketika dalam diskusi kecil tentang Kristolgi menyinggung arti kata iman. Diwaktu yang sama saya sedang membuat makalah dengan kasus “Penginjilan”.  Menarik,  karena saya melihat adanya benang merah antara pengertian kata “IMAN” yang ditanamkan dalam pendidikan dengan peluang misi penginjilan.
Penginjilan adalah  membagikan atau memproklamasikan kabar baik. Kabar baik yang dimaksud adalah memberitakan, menyebarkan injil bahwa Yesus Kristus telah mati bagi dosa-dosa kita (manusia) dan dibangkitkan dari kematian sesuai Al-kitab, dan sebagai Tuhan yang memerintah, Dia sekarang menawarkan pengampunan dosa dan anugrah yang membebaskan dalam Roh Kudus bagi semua orang yang bertobat dan percaya.[5] Target penginjil adalah orang yang masih percaya adanya Tuhan sebagai pencipta manusia dan alam semesta yang dikenal dengan sebutan orang yang “theis”.  Dalam bukunya Iswara menjelaskan lebih rinci sasaran proses penginjilan, “Kita sesungguhnya sedang diperintahkan untuk menginjili orang-orang teis, pertama-tama adalah orang-orang  yang mengaku teis namun teisme mereka keliru, dan yang kedua adalah orang-orang yang mengaku teis secara teori tetapi ateis secara peraktek”[6] 
Penanaman aqidah yang hanya memperkenalkan Tuhan secara umum bisa dikatakan hanya akan membentengi manusia dari sifat atheis. Hal ini masih jauh dari tujuan menjadi seorang muslim. Pernyataan menarik yang pernah ada, jika hanya percaya bahwa Allah adalah Sang  Pencipta, iblis dan syaitan pun mempercayainya. Sumandiyo Hadi dalam bukunya menuliskan “Beberapa kepercayaan misalnya tentang adanya malaikat, kiamat, surga, neraka, dsb, sudah lama menjadi cerita dilingkungan masyarakat. Orang tua selalu mengajarkan kepada anak-anaknya berbuat baik agar nantinya masuk surga, dan jika berdosa akan masuk neraka. Kemudian hari kiamat yang akan terjadi, serta masih banyak cerita lain yang sudah menjadi cerita tradisional adat budaya setempat. Oleh karena itu tentu saja iman kepercayaan setempat seperti disebutkn, banyak mempengaruhi atau menguatkan pengakuan iman yang tidak jauh berbeda dengan ajaran iman Kristiani. Bagi orang tua –yang berhasil dimurtadkan- menerima ajaran ‘iman’ Katolik, cepat sekali percaya dan menerima dogma itu karena sudah terbiasa dalam budayanya.”
 Sehubungan dengan itu, diperlukan perbaikan beberapa hal dalam kurikulum pendidikan lebih utama adalah mata pelajaran agama Islam, dimana pendidikan formal cukup memiliki peranan penting dalam pertumbuh kembangan generasi bangsa yang berkualitas dalam segala bidang tanpa harus terkikis moralnya oleh derasnya arus dari luar yang membuat manusianya menjadi skeptik. Hingga diharapkan kedepannya pertumbuhan sumber daya manusia Indonesia dapat mencetak seorang dokter yang bermoral karena imannya, seorang sarjana dan ahli-ahli yang berkarakter karena imannya. Sehingga Indonesia akan kuat dengan nilai-nilai Islamnya  (bukan menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, namun bernilaikan Islam dikarenakan muslim-muslim didalamnya mencerminkan seorang muslim yang sebenarnya).
Sebagai penutup, mengapa Islam? Karena Islam adalah agama yang memiliki konsep sebagai peradaban. Islam bukan agama yang lahir dari proses kebudayaan, dan merupakan satu-satunya agama wahyu – lebih jelasnya, baca buku H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil, Ph.D berjudul “Worldview Islam Asas Peradaban” Jakarta : INSIST, 2011- dan agama yang mengajarkan segala urusan manusia baik hubungannya dengan Tuhannya, dirinya dan manusia lainnya.



[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke IV
[2] Imam Nawawi. TERJEMAHAN HADIST ARBA’IN.  Hal. 11
[3] Syaikh Muhammad in Shalih al-‘Utsaimin. Syarah Hadist Arba’in. (Bogor : Pustaka Ibnu Katsir, 2008) hal. 57
[4] Ibid.
[5] Pernyataan ini merupakan hasil Kongres tentang penginjilan dunia (world evangelization) pada tahun 1974 di Lausanne. (Dikutip dari buku Iswara Rintis Purwantara, PRAPENGINJILAN, MENYINGKIRKAN KENDLA-KENDALA INTELEKTUAL DALAM PENGINJILAN. (Yogyakarta : ANDI, 2012)
[6] Opcit. Iswara.... Hal. 59

Tidak ada komentar:

Posting Komentar