
Derasnya arus globalisasi yang masuk ke Indonesia memaksa kita
untuk memperkuat pertahanan diri agar dapat menghalangi resapan budaya-budaya
asing yang tidak sesuai, salah satunya adalah mentato tubuh (yang dikenal
dengan “body panting”) hingga menyerupai pakaian, sehingga orang yang ditato
tersebut sebenarnya bugil tetapi nampak
berpakaian, ini dikatakan seni melukis tubuh. Hal ini bertolak belakang dengan
nilai-nilai budaya Indonesia, terlebih dari segi agama Islam yang merupakan
agama wahyu. Bahkan umat Kristen pun dalam kitab bibelnya, terdapat anjuran
berpakaian yakni memakai penutup kepala (kerudung, yang kemudian diubah
maknanya) yakni surat Korintus pasal 11 ayat
6.
Memutuskan untuk memakai kerudung ku mulai sejak aku duduk di kelas
enam Sekolah Dasar. Namun kala itu belum memungkinkan pemakaian jilbab,
sehingga ku tunda hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aku memilih SMP Islam
agar bisa memakai penutup kepala. Mulanya yang aku tau, wanita tampak anggun
dengan jilbab yang dipakainya. Itu hasil kesimpulanku setelah aku mengamati
tante-tanteku yang berjibab lebih dulu. Walaupun seragamku kala itu masih
menggunakan rok sampai dengan lutut dengan baju berlengan panjang dan memakai
kerudung kemudian dilengkapi dengan kaos kaki panjang hingga ke paha, aku mulai
menanamkan niat lebih sungguh – sunguh untuk memakai jilbab. Begitupun di
lingkungan rumah. Hal ini karena aku ingin tampil anggun.
Merasa aneh dengan aturan pakaian seragam yang menggunakan kerudung
namun berok sampai lutut, siswi angkatanku sengaja mulai memakai rok panjang
hingga bawah. Kami tahu bahwa itu melanggar peraturan sekolah, akan tetapi
penampilan siswi dengan aturan sesuai seragam yang ditetapkan tampak kurang
cantik. Hingga akhirnya peraturanpun berubah ketika kami sudah lulus, yakni
menggunakan baju dan rok panjang layaknya busana muslim.
Hal yang terukir dalam ingatanku saat berjilbab tak hanya itu,
diwaktu aku duduk dibangku SMA kelas dua, ketika itu aku satu-satunya wanita
yang memakai jilbab dikelas. Pergaulan dalam kelas tak menghalangi jilbabku.
Kelas kami cukup akrab. Pernah satu kali guru agamaku (wanita) tiba-tiba
mengebrak mejaku dan bertanya “mengapa kamu memakai jilbab?” suaranya
mengagetkanku, secara spontan aku menjawab “perintah Allah”. Lalu ia bertanya
kembali, “apa dasarnya?”. Alhamdulillah, aku sudah pernah diberikan dasar
berjilbab dalam perkumpulan ROHIS SMA yang aku ikuti. “An-Nur : 31” sahutku
cepat. “bagaimana bunyinya?” lanjutnya, “wah, saya belum hafal bu, tapi intinya
menyuruh muslimah untuk menutup aurat dengan menjulurkan kain kudung ke dadanya
dan tidak menampakkan perhiasan kecuali yang dibolehkan tampak yakni muka dan
telapak tangan” jawabku apa adanya.
Guruku rupanya ‘menge-tes’ keyakinanku berjilbab. Aku jadi merasa
bermanfaat mengikuti ekstrakulikuler ROHIS. Setidaknya aku tidak malu didepan
kawan sekelasku ketika itu, dan aku dapat mengutarakan dasar berjilbab, yang
mungkin saja mempengaruhi teman-teman muslimah lainnya. Dalam beberapa waktu
setelah itu, aku mencoba mendekati bu guru agama tersebut dan berkata. “ibu
maaf, bukannya di ayat An-Nur yang saya sampaikan tempo hari ketika ibu
bertanya dasar memakai jilbab, menjelaskan bahwa pemakaian kerudung harus
menjulur kedada dan tidak membentuk?” dengan nada akrab aku menegurnya sopan
ketika melihat beliau memakai jilbab dengan model tidak menjulur ke dada. Lalu
ia pun menanggapi sembari membenarkan jilbabnya, “iya, benar.. terima kasih ya
diingatkan. Dahulu ibu memakai jilbab seperti itu, menutupi dada” suaranya
sedikit canggung namun tidak ada nada tersinggung, dan kami pun berbicara hal
lain.
Dalam keluarga, model jilbab yang aku pakai juga mendapat
kontroversi terutama dari pihak ibu. Setahuku, tata cara aku memakai penutup
aurat ini tidak berlebihan, tidak terlalu panjang, hanya mengikuti syari’at
yang diajarkan. Namun dalam pihak keluarga ibu, belum ada yang seperti aku
dalam memakai jilbab. Karena kami tinggal berjauhan jadi gesekan itu ada hanya
ketika aku pulang kampung.
“koe, make jilbab panjang-panjang... nanti dikira teroris terus
ditangkap densus lho...” sapa budeku sewaktu melihatku membenarkan jilbab
panjangku
Aku hanya menanggapi dengan senyuman manis. Karena mereka belum mengkaji
lebih dalam tentang aturan menutup diri, sehingga pertimbangan utamaku adalah aku
harus mencari waktu santai yang cocok untuk menjelaskannya dengan memberikan
pemahaman tentang ini, tanpa menggurui.
Diwaktu lain, juga aku ditegur oleh mereka, “Makai jilbab sama baju
dobel-dobel, cucian bajunya banyak dong?, kasian mbaknya (panggilan untuk
pembantu yang bekerja dirumah)”.
Terlihat sedikit lebih ketus dari sebelumnya. Semua celetukan dan
anggapan mereka tidak membuatku menjauh dari keluarga, karena itu adalah tugas
kita untuk mengingatkan kabar tetang tata cara penutupan aurat yang di anjurkan
yang mungkin terlupakan.
Alhamdulillah, semua keluarga saat ini sudah bisa menerima. Bahkan ada
keluarga kami yang bercadar. Subhanallah, hebat sekali hidayah yang Allah
berikan. Jadi teringat akan ayat Allah yang tidak boleh mengolok-ngolok suatu
kaum, karena boleh jadi mereka lebih baik dari kita (QS. Al-Hujurat : 11).
Penutup aurat hingga bercadar masih terasa asing dalam masyarakat.
Hal ini juga terjadi dalam keluargaku, yang memandang ‘Islam garis keras’
bagi mereka yang bercadar, memakai
celana gantung, jenggot panjang, dan sebagainya. Hal (pandangan) ini perlu
diluruskan, karena pandangan ini akan membuat hubungan kita sesama muslim
menjadi renggang, dan bisa jadi kelak akan dianggap sebagai sesuatu yang
negatif jika menghidupkan sunah-sunah rasulullah
Kini, giliranku yang memberikan pemahaman untuk mereka terhadap
dasar pemakaian cadar, aku memulai dari orang tuaku dan adik-adiku dahulu.
Kujelaskan sebatas kemampuanku tentang surat Al-ahzab ayat 59, yang diserukan
bukan hanya kepada istri-istri nabi, namun juga anak-anak perempuan, dan
istri-istri orang mukmin untuk menutupi seluruh tubuhnya. Adapun yang tidak
bercadar, dasarnya penerangan hadist rasulullah tentang batas aurat wanita. Dan
Alhamdulillah, tanpa berlama-lama menjelaskan mereka faham.
Dasar-dasar tentang pentingnya menutup aurat ini adalah penting
disampaikan secara perlahan. Terlebih lagi hal ini akan membantu para wanita
lebih terlindungi baik dari nafsu laki-laki dan sengatan sinar matahari. Dari
segi penampilanpun, akan tampak lebih indah. Selain itu, dia juga telah
menolong orang lain, yakni para laki-laki yang memandangnya akan lebih terjaga.
Dalam dunia seni, yang menaruh lekuk-lekuk tubuh wanita sebagai
objek seni yang paling indah, merupakan pelecehan terhadap wanita. Seperti
maraknya foto-foto di internet yang menjadikan wanita dengan penampilan bugil
dijadikan (tubuhnya) sebagai tempat menyajikan makanan. Sangat menyedihkan.
Dalam perjalanan hidup ku, aku juga sering melakukan survei secara
pribadi dan spontan terhadap teman laki-laki, dengan menanyakan :
“Bagaimana perasaan kamu ketika melihat wanita seksi?”
“Tipe wanita berpenampilan seperti apa yang ingin dijadikan sebagai
istri?”
Hanya dua pertanyaan saja yang ku hujankan kepada mereka, dan
dengan cepat memreka menjawab dengan jawaban yang hampir semua sama. Yaitu
tidak nyaman melihat wanita seksi, rasanya seperti ‘bagaimana begitu’ (asyiik),
dan jika disuruh memilih mereka lebih memilih yang dapat menjaga diri dan kalau
bisa yang pakai kerudung. Hal ini juga saya tanyakan kepada anak ‘tongkronga’
yang sangat sering menggoda wanita seksi yang lewat didepannya dengan suil dan
sebagainya. Jawaban mereka atas pilihan pasanganpun sama, mereka memilih wanita
yang baik.
Fitrah manusia
menjadi baik, namun nafsu akan dapat dengan mudah menutupi fitrah tersebut.
Semoga Allah selalu menjaga kita senantiasa dalam hidayah dan nikmatnya. Dan
pihak-pihak terkait yang berperan dalam membuat kebijakan/aturan diharapkan
turut membantu dalam menjaga kehormatan wanita. Sebaik-baik perhiasan adalah
wanita sholehah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar